“Jadi, jan­gan per­nah melakukan fit­nah kepa­da sia­papun, ingat jan­gan per­nah melakukan itu!”

suara lan­tang guru PPKN yang sekarang telah berubah men­ja­di PKn, memec­ahkan keheningan kelas siang itu. Teman-teman terke­jut, lamu­nan mere­ka buyar dan men­co­ba untuk meli­hat waras ke arah pak guru PKn yang terke­nal den­gan kaca matanya. Aku adalah salah satu dari sekian banyak siswa yang ser­ing dibu­at­nya terke­jut dan meng­gig­il.

Pak PKn menat­ap den­gan sinis menye­lidik ke dalam mata teman-temanku satu per­satu. Kaca mata kesayan­gan­nya dib­iarkan mengge­lan­tung di bawah mata untuk mem­be­baskan pan­dan­gan­nya kepa­da kami. Ked­ua tan­gan meny­i­lang di balik ping­gangnya.

“Jan­gan kalian kira saya tidak tahu kelakukan kalian. Dari tadi saya lihat kalian hanya tidur dan meng­hay­al, apala­gi kamu!” suara keras Pak Mayos alias pak kaca mata alias pak OK mem­bu­at temanku bergidik.

“Ini adalah con­toh keane­han anak-anak jaman skarang!” Pak Mayos menat­ap seisi kelas den­gan alis mengerny­it.

“Mau jadi apa kalian? Kalau cara kalian meng­har­gai guru seper­ti ini, jawab!” satu buah meja bergeser dari tem­pat­nya terke­na ten­dan­gan maut Pak Mayos, mem­bu­at seo­rang teman kehi­lan­gan pangkuan­nya di meja dan ter­gul­ing.

Semua bergidik, aku bergidik, bibir-bibir temanku memu­tih kare­na ker­ing. Pak Mayos memang terke­nal den­gan syok ter­api yang diberikan­nya secara spon­tan dan di luar nalar. Bulan lalu ia per­nah mem­bant­i­ng papan tulis kare­na ada temanku yang sem­bun­yi-sem­bun­yi mener­i­ma tele­pon di bawah meja. Dua bulan yang lalu aku masih ingat sep­a­tu pan­topel miliknya ter­bang di atas kepala kami kare­na ten­dan­gan yang diarahkaan­nya pada bangku mele­set keras. Jejak sep­a­tu itu masih ter­pa­hat jelas di tem­bok belakang kelas sam­pai sekarang.

Den­gan san­gat per­la­han ia mulai menat­ap kami, san­gat dekat. Hidungnya yang hitam seakan ingin masuk ke hidung kami, matanya adalah elang yang sedang kela­paran dan kami adalah kelin­ci-kelin­ci.

“Ming­gu lalu di kelas saya kalian berani men­con­tek terang-teran­gan di depan mata saya, tiga hari yang lalu kalian asik melukis di atas meja den­gan stipo, sekarang kalian berani beru­lah lagi!” kem­bali Pak Mayos memec­ahkan telin­ga kami den­gan intonasi tingginya.

Ming­gu yang lalu Bon­dan temanku yang baru men­gawali karir men­con­teknya harus gagal di putaran per­ta­ma. Pak Mayos den­gan kaca­ma­ta sak­tinya menge­tahui kelakuan Bon­dan dan mer­obek peker­jaan­nya berkali kali men­ja­di san­gat kecil dan dilem­parkan ke atas, tepat di atas tubuh temanku Bon­dan. Poton­gan ulan­gan itu turun seper­ti salju dan ter­li­hat wajah putih pucat di antara celah-celah ker­tas itu. Pak Mayos menghukum Bon­dan ber­jalan jongkok di lorong seko­lah dan harus men­gu­cap­kan beber­a­pa kata

“Saya tidak akan per­nah men­con­tek lagi sela­ma-lamanya, saya kapok”

Bon­dan ditat­ap puluhan pasang mata di jen­dela kelas sep­a­n­jang lorong. Ia menangis.

Tiga hari yang lalu Ucok men­ja­di kor­ban ked­ua bulan ini. Stipo yang ia gunakan untuk menggam­bar di atas bangkun­ya diam­bil Pak Mayos dan dilem­parkan­nya ke luar mele­wati atap seko­lah dan mele­wati kebun belakang masuk ke selokan dan hanyut. Ucok memu­tih, ia harus menggam­bar di atas ker­tas sep­a­n­jang 20 meter yang dibu­at oleh Pak Mayos khusus untuk Ucok. Sial­nya, ia harus menggam­bar di lapan­gan bas­ket dite­mani oleh mata­hari di atas kepalanya. Ucok ter­bakar.

Kelas kami adalah kelas yang san­gat ditaku­ti oleh semua guru di seko­lah. Seo­rang guru baru per­nah menangis dan berlari kelu­ar kelas sam­bil men­gusap air matanya. Ia mening­galkan semua barang-barangnya di atas meja guru dan tidak per­nah diam­bil. Sam­pai sekarang barang-barang ibu guru muda itu masih ada di laci-laci meja. Per­nah juga kami mesti meng­gotong Pak Muk­lis guru PKn kami yang sudah tua dan biasa kami pang­gil kakek kare­na pingsan di dalam kelas sete­lah memarahi kami. Berun­tung Pak Muk­lis hanya keca­pean, nyawanya ter­to­long dan itu adalah ter­akhir kalinya pak muk­lis men­ga­jar di kelas ini.

Semua kese­nan­gan berakhir keti­ka Pak Mayos datang ke seko­lah ini dan lang­sung ditun­juk men­ja­di wali kelas kami tiga bulan yang lalu. Per­ta­ma kali masuk kelas, kami sudah harus menge­pel lan­tai sela­ma seten­gah hari sam­pai selu­ruh bekas per­men karet yang melekat di lan­tai bersih. Pak Mayos juga menyu­ruh kami menan­datan­gani kon­trak bela­jar, hak dan kewa­jiban kami tert­era jelas di atas selem­bar ker­tas dan kami hanya menan­datan­gani saja.

“Kamu!” Pak Mayos menun­jukku dan menyadark­anku dari lamu­nan

“Ari, saya tahu kamu meng­hay­al dari tadi!” den­gan suara halus dan mening­gi ia mulai mendekatkan wajah­nya ke wajahku.

“Ke depan!” sam­bil menun­juk papan tulis napas­nya men­er­pa wajahku den­gan san­gat keras meng­goyangkan alis.

Tan­pa berka­ta-kata aku menu­ju ke depan dan satu per­satu temanku yang dicuri­gai mulai men­e­maniku di depan kelas. Pela­jaran ter­hen­ti, selu­ruh mata ter­tu­ju pada kami berem­pat. Aku, Ucok, Kolip, dan Sukip ditat­ap dari kejauhan oleh Pak Mayos.

“Kalian lagi kalian lagi, memang saya harus lebih keras kepa­da kalian teruta­ma kamu Ari!” telun­juknya men­garah ke wajahku.

Memang aku adalah salah satu dari seisi kelas yang san­gat ser­ing beru­ru­san den­gan Pak Mayos. Aku harus mem­ber­sihkan 50 titik per­men karet di lan­tai kare­na per­men karet itu mengumpul di bawah bangkuku.

Aku juga harus menyi­ram selu­ruh bun­ga sam­bil berbicara bodoh kepa­da bun­ga-bun­ga.

Siang itu aku sen­ga­ja memetik sebuah bun­ga untuk diberikan kepa­da gadis pujaan, dialah gadis pri­madona di SMA-ku, matanya yang ben­ing, ram­but­nya yang lurus berk­i­lau, paka­ian­nya yang san­gat bersih mem­bu­at semua lela­ki ingin memetik bun­ga untuknya. Tetapi cer­i­tanya bukan itu, cer­i­tanya adalah keti­ka aku memetik bun­ga mawar yang san­gat indah di depan kan­tor kepala seko­lah. Aku sem­bun­yikan bun­ga itu di balik ping­gang dan mendekati Siti. Den­gan mata berbinar-binar penuh harap aku meny­o­dor­kan bun­ga itu di depan wajah ayun­ya. Ia ter­diam matanya menat­ap kosong ke arahku, titik fokus­nya jatuh di belakang kepalaku. Dia tidak men­gelu­arkan sep­a­tah kat­a­pun dan lang­sung per­gi mening­galkanku. Bun­ga yang kupe­gang seper­ti menge­jekku. Kemu­di­an aku lem­par bun­ga itu dan aku injak-injak di tanah. Aku malu dan marah kemu­di­an berba­lik dan menabrak Pak Mayos yang sudah dari tadi ada di belakang, tepat dibelakangku.

“Sial men­ga­pa aku tidak tahu kalau waliku di belakang dan menyak­sikan semuanya, aku akan berakhir hari ini,” guma­manku dis­er­tai den­gan keringat din­gin yang kelu­ar dari dahi bagian kanan.

“Sudah puas? Sudah puas kamu meng­in­jak  bun­ga kesayan­gan ibu kepala seko­lah?” ia bertanya den­gan dahi men­ci­ut.

Aku tidak mejawab dan ter­tun­duk pas­rah dil­i­hat oleh puluhan anak-anak yang sedang beri­s­ti­ra­hat di taman.

“Ari kamu telah mem­bu­at kesala­han yang san­gat fatal, sekarang kamu per­gi ke wak­er pin­jam alat penyi­ram bun­ga dan sir­am selu­ruh bun­ga yang ada di hala­man ini sela­ma 5 menit untuk satu bun­ga sam­bil mem­inta maaf den­gan keras ke bun­ga itu, menger­ti?” tanyanya den­gan garang.

“Iya pak,”jawabku seadanya. Hari itu hari yang san­gat berat. Masalah besarnya adalah satu bulan yang lalu selu­ruh kelas menyum­bang bun­ga sesuai den­gan jum­lah siswa. Jadi menu­rut per­hi­tun­gan seti­daknya ada 800 bun­ga di selu­ruh taman seko­lah. Untuk menyi­ram selu­ruh bun­ga aku harus meng­habiskan wak­tu sela­ma 4000 menit. Akhirnya aku harus menyi­ram bun­ga ke-799 pada pukul  16.00. den­gan wajah lesu dan teng­gorokan ker­ing, aku mengem­ba­likan alat penyi­ram bun­ga ke wak­er dan berpami­tan kepa­da Pak Mayos yang den­gan setia men­gawasiku dari pagi. Ini semua gara-gara bun­ga.

“hei hei! Apa yang kamu pikirkan? Jawab!” Pak Mayos menanyaiku di depan kelas.

“Ti tidak ada pak,” jawabku seadanya berharap itu adalah per­tanyaan ter­akhir.

“Kalian semua, tidak ada maaf lagi untuk kalian. Sepu­lang seko­lah kalian tidak boleh pulang dan kalian harus men­cari saya di ruang guru.” Kali ini suara Pak Mayos lebih datar dan ten­ang.

“Sudah kalian duduk,” tam­bah­nya.

Semua teman bertanya-tanya men­ga­pa Pak Mayos tidak mengek­sekusi kami saat itu. Aku duduk di kur­si dan men­gelu­arkan ken­tut kecil yang sudah aku tahan dari tadi. Suaranya nyaris tidak ter­den­gar, aku ken­tut agak pan­jang kemu­di­an semua temanku kelu­ar den­gan panik dan muntah.

Sepu­lang seko­lah kami berem­pat datang ke ruang guru dan men­cari Pak Mayos. Rupa­nya beli­au sudah siap berdiri di depan meja ker­janya. Kami mendekatinya den­gan menun­duk sam­bil memegang kemalu­an. Kami benar-benar pas­rah mener­i­ma semua ben­cana yang akan menim­pa hari ini.

“Maaf pak kami sudah sele­sai bela­jar,” Sukip mem­u­lai perbin­can­gan.

“Saya sudah tahu, saya masih bisa liat,” jawab Pak Mayos din­gin.

“Bapak akan menghukum kami?” kali ini bon­dan yang men­co­ba perun­tun­gan.

“Per­tanyaan kony­ol, sudah tahu salah masih bertanya seper­ti itu, berkali-kali saya katakan den­gan jelas prin­sip saya orang salah harus dihukum,” Pak Mayos kesal.

“Ikut saya!” tam­bah Pak Mayos

Kami dia­jak ke taman dan menu­ju ke tanah kosong di sebe­lah area taman kelas kami. Pak Mayos datang dari kejauhan dan mem­bawa 15 kan­tong tana­man beser­ta alat untuk menanam. Den­gan sedik­it ngos-ngosan ia berka­ta,

“Mari kita buat taman untuk kita dan kita akan mer­awat­nya  sam­pai kalian tamat dari seko­lah kecil di kaki gunung ini,” kami benar-benar terke­jut. Tak ada sedik­it pun kemara­han di wajah Pak Mayos. Diter­pa men­tari sore, Pak Mayos ter­tun­duk sam­bil menan­cap­kan skop di atas rumput jepang. Kali ini wajah­nya adalah seo­rang ayah yang men­ga­jari kehidu­pan kepa­da anak-anaknya. Menanamkan kasih sayang di dalam jiwa kami.

Sore itu, ada mata­hari di mata Bon­dan dan Sukip.

 

By Ayurii

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *